Indonesia tengah berduka. Dua hari beruntun terjadi lima serangan bom bunuh diri. Kejadian ini terjadi di Surabaya empat kejadian. Yakni tiga di gereja, Mapolrestabes dan satu kejadian di Rusunawa, Sidoarjo.

Tentu hal ini merupakan tindakan yang biadab dan tidak pernah dibenarkan oleh agama manapun. Apalagi pelakunya adalah satu keluarga bersama anak-anaknya.

Satu penyebab teroris melakukan teror bom adalah radikalisme. Saat ini Indonesia sedang darurat radikalisme. Ajaran-ajaran radikalisme diduga telah menyebar di pelosok negeri dan akan menyebar jika tidak bisa dicegah sejak dini.

Melihat pelaku teror bom ternyata masih anak-anak, mengindikasikan bahwa pendidikanlah yang harus menjadi peran penting dalam pencegahan paham radikalisme. Bagaimana caranya supaya pendidikan mampu mencegah paham radikalisme yang menjadi bibit utama para teroris?

Yang pertama adalah perkuat Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolah. Paham radikal bertentangan dengan Pancasila. Oleh karena itu sekolah harus memperkuat wawasan siswa tentang Pancasila dan Kewarganegaraan.

Bukan hanya teori saja, melainkan praktik dan penerapanya. Memang saat ini mata pelajaran PPKN sering dianggap sepele bahkan membosankan. Namun sekolah harus mengubah mindset siswa yang seperti itu. Dari pendidikan dasar siswa harus diajarkan mengenai pentingnya Pancasila, menjadi warganegara yang baik, dan cinta terhadap NKRI serta membimbing siswa mengaplikasikanya dalam kehidupan.

Jika semua sekolah atau bahkan perguruan memperkuat Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, paham radikal akan dapat dicegah.

Yang kedua adalah perkuat Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Mata pelajaran seperi Agama dan Budi pekerti sangat penting namun sering disepelekan oleh siswa. Dalam pembelajaran Agama dan Budi Pekerti, teori aja tidaklah cukup.

Sekolah sebagai satuan pendidikan harus membimbing secara penuh siswa dalam mempelajari, mengamalkan, dan menerapkan ajaran Agama dan Budi Pekerti dengan benar. Hal ini karena jika lemah dalam pengajarannya, di situlah paham radikal dan ekstremis akan masuk dan membuat siswa cenderung mempelajari ajaran radikal tersebut.

Yang ketiga adalah genjotkan pendidikan karakter. Saat ini penerapan pendidikan katakter di sekolah kurang maksimal. Ketidakmaksimalan inilah yang menyebabkan lulusan dari suatu satuan pendidikan akan memiliki karakter yang kurang dan mudah terjerat paham radikal.

Sekolah unggulan sesungguhnya bukanlah sekolah yang mencetak siswa dengan nilai tinggi, namun bisa mencetak siswa dengan karakter tinggi. Untuk itu sekolah tidak hanya menjadikan pendidikan karakter menjadi teori saja, melainkan harus menerapkan dan mengajarkan setiap hari kepada siswa. Jika karakter siswa sudah baik, paham radikal tidak akan mampu masuk.

Dalam hal pencegahan paham radikal melalui pendidikan, dibutuhkan kerjasama pihak sekolah, orangtua, dan masyarakat.

I Putu Yoga Sadhu

Lulusan Pendidikan.Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.