Millennials of Indonesia: Gak Ada Satu Manusia pun Bisa Memilih Mau Dilahirkan di Mana

dan kita nggak akan tahu orang itu dalamnya seperti gimana kalau kita cuma melihat dari luar aja #Vol.29

Millennials of Indonesia: Gak Ada Satu Manusia pun Bisa Memilih Mau Dilahirkan di ManaAlvitaWibowo/IDNtimes.com

Millennials of Indonesia adalah rangkaian cerita dan pemikiran dari generasi millennial dan gen Z Indonesia. Semua cerita disampaikan oleh anak-anak muda untuk generasinya. Setiap orang punya cerita dan inilah waktunya berbagi, bukan saling menghakimi.


Nabila, 19 tahun.

Saya kuliah di kampus swasta, di mana mayoritas mahasiswanya adalah Warga Negara Indonesia "Keturunan Tionghoa", dan non-Muslim. Saya termasuk minoritas di kampus saya: Warga Negara Indonesia "Pribumi", Muslim, berhijab pula. Pada awalnya jujur saya takut, karena ada doktrin yang sering saya dengar "Eh, kamu kuliah di kampus itu nanti kamu nggak punya teman lho" atau "Eh kamu nanti dikatain teroris lho!". Tapi saya beranikan diri dan saya putuskan menempuh perkuliahan di kampus ini.

Hari pertama kuliah, saya justru kaget dengan apa yang saya alami. Di kelas yang terdiri dari sekitar 30 orang. Ada 6 orang WNI "Pribumi" di kelas saya, tapi selain saya semuanya cowok. Tentu saja, saya yang paling menarik perhatian karena saya berhijab. Yang lucu adalah, 5 orang teman saya ini justru nggak open sama sekitarnya. Saat pertama saya masuk kelas, yang menyapa saya justru bukan mereka, tapi justru orang-orang yang saya nggak kenal dan "berbeda" dari saya. Ya, udah lah mungkin mereka gengsi atau apa. 

Lanjut ke semester-semester berikutnya, satu temen dekat saya yang adalah orang Tionghoa bertanya kepada saya "Nab, kenapa sih kalian nggak mau terbuka sama kami?". Saya bingung dong, maksudnya apa. Sampai ternyata kemudian dia baru cerita kalau dari semua mahasiswa WNI "Pribumi" dan Muslim yang dia kenal, yang mau berteman dengannya cuma saya. Yang lain sikapnya justru cenderung "mengkotak-kotakkan". Mereka main, belajar, bercanda, bikin kelompok kerja tugas hanya bersama sesama yang pribumi.

Teman saya juga bilang "Kita itu sesama orang Indonesia, sama-sama bisa bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Memang dari luar yang 'Pribumi' atau yang 'Tionghoa' tampak berbeda tapi saat yang 'Pribumi' bercanda dan menjelek-jelekkan 'Keturunan Tionghoa', kami paham lho apa yang dibahas."

Saya punya prinsip, Kalau kamu nggak bisa menerima perbedaan orang, jangan harap orang mau menerima perbedaanmu. Everyone has flaws. Kita semua nggak pernah minta lahir di mana, dilahirkan sebagai keturunan apa, di keluarga apa.

Kalau misalnya kita mau hidup yang benar-benar hidup, kalau kita nggak bisa berubah kamu bakal stuck di situ-situ aja. Apalagi ini sudah tahun 2016, sebentar lagi sudah 2020 dan akan semakin banyak diversity yang masuk di Indonesia. 

Saya sendiri, setiap kali bertemu orang yang saya kenal tentu akan saya sapa, tak peduli dia mau dari Papua, dari Maumere, mau keturunan apa. Tapi saya sempat bertanya kepada teman saya yang sesama "Pribumi", apakah mereka nggak bosan bertemu dan berkumpul hanya dengan orang-orang itu saja. Teman-teman saya yang pribumi justru berpikir saya kelewat batas.

Mereka bilang "Kamu itu Muslim, seharusnya kamu bisa membatasi diri." Maksudnya hangout itu ya udah sama sesama Muslim saja. Memang ada analogi kurang lebihnya begini "Bergaul dengan tukang parfum kamu wangi, bergaul dengan siapa kamu pintar, baik dan seterusnya." Tapi itu diartikan secara sempit.

Menurut saya, saya bergaul dengan siapapun itu saya sendiri yang tahu apakah teman saya itu yang baik, atau saya yang buruk. Kalau kita melihat orang dari luarnya saja itu sama aja seperti kita milih fortune cookies. Dari luar, suatu kue bisa saja kelihatan bagus padahal dalamnya kata-katanya jelek banget. Sementara mungkin kue yang lain dari luar kelihatan ada retaknya, tapi dalamnya malah punya kata-kata yang bagus.

Kita nggak pernah tahu sih orang itu dalamnya seperti gimana kalau kita cuman melihat dari luar aja. Agak disayangkan kalau di dunia yang sebesar ini manusia mengkotak-kotakkan dirinya. Karena di zaman sekarang kalau kita nggak bisa berpikiran terbuka akhirnya malah kita sendiri yang nggak bisa maju.


Millennials of Indonesia, Vol. 29. A Series by IDNtimes.com

Read More
Line IDN Times
ARTIKEL REKOMENDASI