Saya marah sekali menonton tayangan singkat yang menunjukkan seorang perempuan, masih terpasang infus di sebuah rumah sakit, memakai baju tidur batik sederhana menangis tersengal menunjuk seorang pria berpakaian perawat dan meminta pria ini mengaku apa yang sudah dilakukannya terhadap perempuan tersebut. Saya tidak bisa melakukan link back, menyebutkan identitas sang perempuan, atau meng-embed video tersebut di sini karena saya belum mendapatkan balasan persetujuan dari korban yang bersangkutan.

Namun saya bersyukur adanya video ini membuat saya marah, dan saya yakin banyak perempuan lain yang melihatnya juga marah. Kata-kata perempuan itu membuat darah siapa saja dengan hati nurani dan akal sehat pasti mendidih.

Ngaku, gak apa yang kamu lakukan ke saya? Saya ini sakit, lemah, kamu remas payudara saya berapa kali dan tangan kamu masuk ke dalam baju saya kan?!.

Sambil terengah-engah perempuan ini masih menjelaskan. Didampingi dua perawat perempuan dengan wajah datar, jika memperhatikan video ini baik-baik bisa didengar salah satu perawat perempuan sempat-sempatnya bilang, "Ayo kamu minta maaf, nanti kamu dituntut," atau sesuatu yang kedengaran seperti itu pada perawat pria. Di akhir video tampak sang korban masih menerima uluran tangan perawat pria yang meminta maaf, begitu juga dengan keluarga perempuan yang hadir di ruangan.

Boleh dibilang klise, tapi spotlight yang diarahkan ke komunitas perempuan akhir-akhir ini jelas membuat semua perempuan di belahan dunia manapun, termasuk saya, bangga dan empowered. Akhirnya, perempuan angkat suara, terbukti dari viralnya hashtag #MeToo di media sosial dan adanya peringatan kesetaraan gender lewat Women's March, semua berlomba-lomba berbicara lantang bernyali tanpa takut konsekuensi.

Pelecehan yang sengaja dianggap lalu oleh anggota masyarakat, bahkan korban pelecehan itu sendiri, ketika jelas dampak yang diakibatkannya tidak main-main akhirnya dapat sorotan dan dianggap masalah serius. Inilah dunia di mana saya ingin melahirkan anak perempuan saya dan membesarkannya untuk tidak pernah merasa dirinya kelas dua karena bukan laki-laki.

Lalu dihadapkanlah kita semua pada video yang bikin muak tersebut. Kenyataan bahwa pria bejat bisa bersembunyi di balik seragam pelayan masyarakat membuat saya bergidik ngeri, untuk kesekian kalinya. Dengan entengnya permintaan maaf yang sejatinya tidak bisa diterima ini diutarakan dengan alasan khilaf.

Saat saya menunjukkan video tersebut ke sesama teman perempuan saya, teman saya berkomentar, "Bisa jadi ini bukan kali pertama oknum ini beraksi," dan saya tidak bisa tidak ikut berpikir demikian. Kalau dengan alasan "khilaf" setiap korban perkosaan, pelecehan fisik maupun verbal akhirnya harus mengalah dan terima saja dengan situasi yang terjadi, apakah pria-pria bejat yang "cuma khilaf" ini tidak akan pernah dapat ganjarannya?

Mengapa "khilaf" bisa jadi alasan untuk melakukan hal yang tidak pantas dan dimaklumi karena laki-laki? Hal ini membawa saya pada poin berikutnya. Karena video yang bersangkutan tengah beredar kencang di khalayak media sosial, ada satu hal lain yang mengganjal: keingintahuan orang-orang terhadap latar belakang korban sehingga dirinya melakukan posting di media sosialnya video konfrontasi dengan si pelaku.

Saya memang tidak menggali dalam-dalam amat, tapi ketika saya share postingan mengenai hal ini di media sosial saya, salah seorang kawan di Facebook berkomentar bahwa si korban ini perlu diingat adalah orang yang sangat berpotensi sedang mencari perhatian karena adanya skandal yang berkaitan dengan suaminya. Saya cuma bisa mengernyitkan dahi.

Apa hubungannya latar belakang perempuan yang jadi korban pelecehan dengan tereksposnya pelaku?

Kawan yang berkomentar ini pun seorang perempuan, seperti saya dan korban. Saya bukan mau sok feminis atau jadi pembenci laki-laki, bukan juga mau ngotot membela korban dari anggapan "cari perhatian". Bisa jadi di lubuk hati korban yang paling dalam, kejadian ini cukup memberikan inspirasi untuk sekalian "cari nama" dan "cari muka", tapi hal ini tidak serta-merta mengeliminasi fakta bahwa perlakuan yang dia terima itu jadi tidak ada artinya.

Siapapun perempuan yang jadi korban pelecehan dan penyerangan seksual berhak mendapatkan keadilan, tidak peduli apakah dia datang dari latar belakang apa atau pernah punya masa lalu seperti apa. Mengapa hal ini selalu membayangi korban pelecehan seksual yang berani bicara terang-terangan dan mengkonfrontasi pelaku? Saya tidak habis pikir.

Mari kita bayangkan jika kejadian ini dibalik. Jika oknum yang tidak berdaya dan jadi korban adalah laki-laki. Apakah hal yang sama akan terjadi?

Agak sulit rasanya membayangkan kalau di Indonesia laki-laki bisa jadi korban pelecehan seksual separah yang pernah dialami perempuan selama ini, karena masyarakat kita sudah terlanjur mendewakan laki-laki sebagai sosok pahlawan.

Taruhlah pria ini tidak berdaya kemudian dikeroyok habis-habisan. Apakah pengadilan oleh masyarakat juga akan sebegitu merendahkannya dengan mencaritahu apakah si pria yang tidak berdaya ini orang yang duluan cari masalah?

Lagipula, ngapain juga sih harus diposting di media sosial? Kalau fakta bahwa korban sendiri yang dengan waras memilih untuk merekam dan memposting kejadian yang dia alami ke media sosial di akun pribadinya saja bikin kita sebagai penonton mereduksi ke-valid-an situasi pelecehan yang dialaminya sebagai usaha cari perhatian, maka masyarakat kita memang luar biasa miring otaknya.

Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada korban. Saya tidak lagi melihat apakah memang sang korban saja yang cari perhatian, atau fakta bahwa dia dirawat di rumah sakit swasta bergengsi dan perawat bejat itu hanya orang kecil yang berhak dapat kesempatan lagi dan sebaiknya tidak dipecat (kabar terakhir, pelaku ini sudah dipecat dan kasusnya kini dipolisikan).

Saya melihat pentingnya hal-hal seperti ini ditunjukkan dan diluruskan. Apakah itu untuk efek jera buat siapa saja yang selama ini masih bisa enak-enak grepe perempuan dan langsung kabur naik motor, masih bisa mengambil kesempatan merancap di tengah gerbong kereta yang sempit, atau masih bisa leluasa merencanakan cara agar pacar mau berhubungan seks dengan embel-embel pembuktian cinta, saya berterima kasih.

Pelecehan seksual tidak seharusnya dipandang oleh pria sebagai alat dominasi dan menunjukkan siapa yang berkuasa. Pelecehan seksual seharusnya bikin siapa saja muak dan marah, dan memilih untuk tidak tinggal diam dan melakukan sesuatu.

Kalau hukum di Indonesia masih cenderung meremehkan keabsahan laporan dari korban pelecehan seksual berjenis kelamin perempuan, saya cuma bisa membayangkan bagaimana rupanya kalau yang melaporkan adalah pria yang dilecehkan. Mungkin para polisi ketawa saja sambil berujar, "Jangan kayak banci."

Kabar terakhir dari situs berita lokal menyatakan bahwa polisi menindaklanjuti hal ini karena video yang viral. Saya pun menutup percakapan saya dengan kawan Facebook tersebut dengan memberikan tautan link ke berita terakhir ini, "Kalau memang dibutuhkan anggapan cari perhatian dan cari sensasi untuk dapat keadilan, ya sudahlah mau gimana lagi."

Di tengah masyarakat yang twisted seperti ini, mari kita ingat-ingat ujaran dari komedian yang sedang naik daun Tiffany Hadish: "Listen fellas,i f you've got your thing-thing out, and she got all her clothes on, you're wrong. You're in the wrong."

Prisca Akhaya Tenggono

Making Mechanicopy.com happens.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.