Indonesia kembali disuguhi dengan drama pembobolan, penyanderaan dan pembunuhan polisi yang dilakukan sekelompok napiter di Mako Brimob. Belum reda rasa kaget kita, tiga gereja di Surabaya dibom, disusul dengan rusunawa di Sidoarjo dan Kapolrestabes Surabaya.

Sekolah di Jatim diliburkan, ada yang sampai satu minggu. Densus 88 melakukan operasi penyisiran dan penangkapan di sana sini. Bagaimana reaksi kita? Takut atau biasa saja?

“Jangan menakut-nakuti anak dengan berita-berita teror semacam ini,” ujar seorang pendidik.

Apakah imbauannya efektif di tengah marak dan masifnya berita terorisme di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, disertai dengan video dan foto-foto yang seringkali ‘lolos’ sensor, padahal sudah dilarang Menkoimfo?

Di satu sisi kita memang layak kuatir saat anak-anak kita mendapatkan pasokan informasi di era internet yang—meminjam istilah Mitchell Kapor—seperti minum air dari selang pemadam kebakaran. Artinya, bukan hanya lebih dari cukup, namun membuat kita gelagapan karena saking banyaknya. Bagaimana mencegah apalagi memfilter informasi yang masuk ke benak anak-anak kita? Bagaimana juga mengelola rasa takut kita?

Lebih Banyak Manfaat atau Mudarat?

Rasa takut bisa biochemical, bisa pula, emotional. Yang pertama boleh dibilang menimpa setiap orang, sedangkan yang kedua, kadarnya berbeda-beda.

Tanpa rasa takut, jangan-jangan kita tidak lagi hidup di zaman now. “Saya takut jika saya tidak punya rasa takut,” ujar saya kepada seorang sahabat yang bertanya perasaan saya saat ini. Ternyata saya tidak sendirian. Ada meme yang ramai di media daring yang membuat kita tertawa di tengah sikon yang mencekam seperti ini. Bunyinya: “Saya tidak takut, meskipun sedikit ndredeg (Jawa = gemetar).”

Rasa takut ‘dipakai’ Tuhan agar kita bisa survive. Setiap kali kita menghadap rasa takut, ada dua pilihan, kabur atau bertempur. Pilihan di antara keduanya tergantung dari besar kecilnya sumber rasa takut itu dan persepsi kita terhadap daya tahan serta daya tempur kita sendiri.

Seberapa besar pun sumber rasa takut, jika kita merasa sanggup melawannya, kita akan fight alias bertempur. Sebaliknya, sekecil apa pun sumber rasa takut, jika kita merasa ‘kecil’ dan tidak siap, kita memilih untuk flight alias kabur. Yang paling berbahaya jika kita salah menilai diri kita sendiri dan menjadi takabur.

Ketika menulis bagian ini, saya teringat nasihat almarhum papa saya. Meskipun saya tahu papa saya punya fisik yang kuat karena berlatih olahraga Tiongkok kuno, suatu kali dia berkata, “Jika suatu kali engkau menghadapi lawan yang tangguh, senjata terbaik yang engkau miliki adalah kaki.”

Mula-mula saya berpikir bahwa papa saya mengajarkan kuda-kuda yang memang terkenal di berbagai aliran kungfu. Dugaan saya salah. Ternyata yang beliau maksud adalah ‘kabur’ daripada dikubur.

Apakah kabur selalu berkonotasi pengecut? Tidak juga. Lewat pertimbangan yang matang, jika bahaya yang mengancam itu terlalu besar, logika yang Tuhan berikan kepada kita adalah melarikan diri. Contoh. Apakah saat lava membara mengalir deras ke arah Anda, hanya karena takut dicap pengecut, Anda malah lari menghampiri? Tindakan itu bukan menunjukkan keberanian, melainkan kebodohan.

Dalam hal ini kita perlu membedakan antara ‘berani’ dan ‘nekad’. Berani dilandasi pemikiran, prakiraan cerdas dan pemikiran matang bahwa kita sanggup menghadapi bahaya atau lawan. Sedangkan ‘nekad’ artinya tetap maju meskipun secara logika kita akan kalah.

Salomo alias Sulaiman, orang yang paling berhikmat di seluruh dunia pun pernah berkata, “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”

Jangan terlalu memasukkan ke hati, apalagi pikiran, para motivator yang menyuruh kita nekad jika posisi kepepet. Ingat The Power of Kefefet yang sempat beken? Ada kalanya bonek—bondo nekad—bisa berhasil. Namun, lebih banyak yang akhirnya tergencet, bukan?

Nenek moyang kita secara naluri akan kabur jika menghadapi bahaya yang jelas-jelas besar. Dinosaurus—termasuk Tyrannosaurus Rex alias T-Rex—yang perkasa pun tidak lagi ‘berjalan bersama kita’ di planet bumi ini karena tidak sempat kabur saat kejatuhan meteor.

Satu insting yang kita miliki untuk melindungi diri sendiri adalah pelupuk mata yang seketika—sepersekian detik—memejam saat ada benda berbahaya yang hendak memasukinya. Saat debu menyerbu, secara otomati kita akan memejamkan mata.

Tidak ada orang yang begitu bodoh membuka mata saat badai pasir menerjang wajah kita. Saat berada di Mesir dan Yordania, pemandu wisata saya berkata, jika badai pasir tiba, lebih baik masuk bangunan atau kalau tidak sempat berlindung di bukit kecil.

Survival for the fittest yang digaungkan Charles Darwin termasuk bisa menjaga diri saat bahaya datang. Bukan malah menantang dan terjengkang. Seorang yang pernah bekerja di gegana memberikan saya masukan, “Jika terjadi ledakan, saat yang paling tepat adalah tiarap atau tengkurap.”

Bagaimana dengan reaksi emosional terhadap rasa takut? Tergantung. Adalah manusiawi jika kita berkeringat dingin, jantung berdegup lebih kencang dengan frekuensi lebih cepat, dan adrenalin melonjak pesat saat bahaya mendekat. Namun, jika bahaya itu sebetulnya ‘terlalu kecil’ atau bahkan tidak berbahaya sama sekali dan kita sudah ketakutan, maka kita sendirilah—dengan pertolongan para ahli—untuk menyingkirkannya.

Caranya adalah ‘sosialisasi’ dan ‘membiasakan diri’ kita dengan benda atau makhluk itu. Saya pernah membaca seorang takut terhadap kupu-kupu yang secara umum tidak berbahaya, diterapi dengan langkah berikut.

Mula-mula dia diajak ngobrol soal kupu-kupu. Setelah dia mulai ‘terbiasa’ dan tidak takut lagi begitu mendengar kata ‘kupu-kupu’, dia ditunjukkan gambar kupu-kupu. Setelah terbiasa lagi, dia disodori kupu-kupu asli yang sudah dikeringkan. Mula-mula masih timbul rasa takut, lama-lama, dia mulai berani menyentuh kupu-kupu. “Hai, ternyata kupu-kupu itu tidak berbahaya. Malah cute,” ujarnya. Baru setelah itu dia diajak untuk bersentuhan langsung dengan kupu-kupu hidup yang terbang ke sana ke mari.

Waktu yang dibutuhkan di setiap tahap bervariasi antara orang yang phobia kupu-kupu dengan lainnya, juga tergantung pada tingkat rasa takutnya terhadap serangga cantik ini.

Saya yang phobia ketinggian, ketika berada di sebuah kota di dunia, saya justru naik ke bangunan atau menara tertinggi di kota itu. Misalnya, saat di Sydney, saya naik ke Sydney Tower. Jika Anda ke Seattle, Anda bisa juga kunjungi space needle yang terkenal itu. Saya berada di Kaliurang, saya memanjat menara pantau gunung berapi bersama kameramen sebuah stasiun televisi. Saya berhasil naik, reporter televisi itu malah gemetar ketakutan. Ternyata sama saja. Wkwkwk.

Terbiasa justru berbahaya

Namun, terbiasa juga bisa berbahaya. Kembali ke kasus rasa takut terhadap teror. Kita dan khususnya anak-anak, yang terbiasa disuguhi dengan tontonan yang sadis dan mengerikan, lama-lama akan tercipta kasus imun terhadap perbuatan semacam ini. Bahkan dalam kasus pengeboman di Surabaya, pasutri bomber malah mengajak empat orang anaknya yang sebagian besar masih di bawah usia dewasa.

Anak-anak yang biasa menonton film kekerasan dan games pembunuhan berdarah-darah, apalagi jika mereka yang menggerakkan ‘jagoan’ di games itu untuk membantai lawan-lawannya, maka bisa jadi dia akan merasa biasa menyaksikan orang menyiksa sesamanya.

Waktu tinggal di Australia, polisi di sana sampai geleng-geleng kepala saat menemukan seekor kura-kura yang dimutilasi hidup-hidup. Siapa yang bisa melakukan kekejaman sedemikian rupa terhadap makhluk yang relatif tak berbahaya ini?

Peristiwa pembunuhan Laura oleh Stefanus sehari telah foto prewedding membuat banyak warganet yang mengatakan bahwa pelakunya sadis, bahkan ada yang marah dan mengatakannya psikopat. Demikian juga saat lima polisi yang berada di Mako Brimob mengalami penyiksaan dan pembunuhan oleh napiter yang berontak, bom Surabaya dan Sidoarjo, simpati langsung jatuh ke para korban yang meninggal dunia saat menjalankan tugas negara.

Mengajarkan rasa takut yang aman

Bagaimana seharusnya kita memaknai rasa takut dalam upaya membela diri? Di dalam perjalanan saya menuju ski resort, di atas bus diputarkan video tutorial bagaimana menghadapi bahaya jika kita terpisah dari rombongan, terpaksa bermalam di tengah lautan salju, dan terjebak avalanche (Salju longsor)?

Satu tips yang saya ingat adalah sesegera mungkin menghindari salju longsor dari jumlah yang masif, dengan ‘mengayuh’ papan ski kita secepat mungkin ke arah yang aman, yaitu wilayah menurut  perkiraan kita ‘tidak dilewati’ oleh salju yang turun dengan kecepatan tinggi.

Jika kita terpaksa ‘bermalam’ di lautan salju karena terpisah dari rekan-rekan pemain ski lain, kita diminta untuk menggali lubang di balik sebuah gundukan agar kita tidak diterpa langsung oleh angin dingin yang membekukan sambil menunggu pertolongan datang.

Apa inti tutorial ini? Safety first. Pencegahan lebih penting ketimbang pengobatan dan pemulihan. Deradikalisasi dan upaya membangkitkan kesatuan dan persatuan serta keutuhan NKRI perlu digerakkan oleh pemerintah secara masif. Bukan hanya di masyarakat, melainkan di dunia pendidikan sejak PAUD.

Saya ingat benar dengan ceramah KH Zainuddin MZ. Beliau berkata bahwa jika kita tinggal di tepi sungai, alih-alih melarang anak kita bermain air, jauh lebih bijak jika kita mengajarinya berenang. Setuju!

*Xavier Quentin Pranata, dosen dan pelukis jiwa di kanvas kehidupan

Xavier Quentin Pranata

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.